Pertanyaan : Apakah ada “nasib” ? Sekiranya ada, guna apa kita berusaha, karena toh nasib sudah ditakdirkan ? Tetapi sekiranya tidak ada, kenapa ada orang yang kaya tanpa usaha banyak, sedangkan ada orang yang miskin, biarpun banyak berusaha ?
Jawab : Pertanyaan saudara sangat kuno, tetapi juga sangat up-to-date. Saya katakan “kuno”, karena persoalan ini sudah ditanyakan orang2 primitip sejak dahulu kala, di dalam dan di luar agama. Setiap generasi menanyakan pertanyaan ini, karena tidak merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh generasi yang mendahuluinya. Setiap generasi, termasuk generasi kita sekarang ! Itu makanya persoalan itu juga up-to-date. Bukankah kita mendengar bahwa pemimpin2 negara (terlebih di dunia bagian Timur ini), selalu “consult” lebih dahulu dengan datu2nya sebelum melaksanakan suatu rencana, atau sebelum berangkat ke luar negeri ? Bukankah kita mendengar bahwa banyak orang2 yang berpendidikan menghubungi “sumber2 tertentu” sekadar untuk mengetahui masa-depan masing2. Tentu soal ini sedikit-banyaknya menimbulkan pertanyaan dalam hati orang biasa, apakah memang nasib itu sudah ditakdirkan sebelum realisasinya ! Memang soal ini sangat relevant dalam zaman kita di Indonesia.
Sebenarnya jawaban atas pertanyaan ini sangat bergantung kepada pengertian kita akan istilah “nasib”. Nasib itu demikian banyak artinya, sehingga kita harus hati2 dalam pemakaiannya.
Apabila yang dimaksud dengan “nasib” ialah sesuatu yang dapat diketahui melalui kartu, tentu agama Kristen mengatakan “tidak ada nasib yang demikian” ! Apabila yang dimaksud ialah sesuatu yang dapat dibaca dalam garis2 tangan, tentu agama Kristen juga mengatakan “tidak ada nasib yang begitu” ! Apabila yang dimaksud ialah sesuatu yang dapat dibaca dari letaknya bintang2, agama Kristen juga menyangkal adanya nasib yang demikian. Demikianlah juga tentang ramalan2 dari pihak datu, ataupun dari pihak lainnya. Agama Kristen tegas menolaknya. Sekiranyapun ada yang benar terjadi dari antara ramalan2 dari bacaan garis2 tangan, atau dari bacaan2 kartu, dll., itu adalah kebetulan saja. Tidak ada sesuatu dasar ilmiah atau dasar keagamaan yang menjamin akan berlakunya sesuatu terkaan manusia mengenai masa depan dari seseorang. Segala sesuatu yang mencoba meramalkan masa-depan, adalah bersifat pseudo.
Demikian juga, apabila “nasib” ditinjau dari pengertian fatalisme, tentu agama Kristen dengan tegas sekali menolaknya. Fatalisme mengatakan : sekiranya saya membunuh si B dan dia mati, itu adalah kehendak Tuhan; karena sekiranya itu bukan kehendak Tuhan, saya akan dihalangi membunuhnya. Inilah nasib si B. Demikian pendapat fatalisme. Pengertian yang demikian kita tolak habis2an, karena menghapuskan tanggungjawab manusia.
Bagaimanakah pandangan agama Kristen secara positip ? Agama Kristen mengajarkan bahwa hidup kita ada di dalam tangan Tuhan (Mat 6:25-34; Rm 14:7-9). Inilah dasar dari optimisme Kristen dalam segala waktu, dan dasar dari hiburan Kristen dalam tiap zaman. Kalau ini disebut “nasib” (artinya hidup dalam Tuhan), tidak apa-apa. Yang penting ialah bahwa orang beriman tidak usah khawatir mengenai masa depannya. Asalkan dia bekerja sebagaimana harusnya, dan mempergunakan talenta yang diberikan Tuhan kepadanya, dia boleh menengadah “ke atas” memohon hasil dari usaha2nya. Benar, bahwa ada orang yang kelihatan kurang bekerja keras. Apabila hal ini terjadi, janganlah kita ter-gesa2 mengambil kesimpulan. Kita harus sanggup melihat beberapa factor dalam soal itu, dan menghubungkannya dengan adanya pemeliharaan Tuhan Yang Mahabijaksana. Umpamanya, seandainya saya mempunyai kekayaan seperti Rockeffeller, belum tentu kekayaan itu dapat saya kendalikan ke arah kebaikan kemanusiaan. Belum tentu saya dapat mendirikan fonds2 kemanusiaan. Belum tentu saya dapat mendirikan fonds2 membantu kemajuan kemanusiaan seperti yang dilakukan oleh Rockeffeller. Jadi kita harus sanggup menghubungkan sesuatu dengan Kehendak Tuhan, walaupun Kehendak itu tersembunyi. Lepas dari soal itu, kita mengatakan bahwa kekayaan atau kemuliaan (yang hendak diketahui oleh pelihat nasib) bukanlah ukuran yang sesungguhnya untuk nilai yang sebenarnya dari manusia.
Agama Kristen mengajarkan bahwa ada penentuan dari pihak Allah mengenai hidup manusia. Tetapi pada waktu yang sama harus pula dikatakan bahwa manusia bertanggungjawab atas hidupnya. Dia diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk mempergunakan hidupnya ke arah mana. Dari sudut manusia harus dikatakan bahwa masa depan adalah tergantung pada masa sekarang. Artinya “nasib” itu adalah ciptaan manusia. Hanya dengan demikian kelihatan jelas tanggungjawab manusia atas segala perbuatannya. Kesalahan yang saya perbuat adalah kesalahan saya; tidak dapat saya lemparkan begitu saja kepada iblis, atau kepada orang lain, atau kepada “nasib”. Dengan demikian nasib itu berada dalam tangan manusia. Hal2 yang tidak dapat saya kontrol mengenai hidup saya, tentu saya artikan dalam kontekst pemeliharaan dan pengetahuan Tuhan Allah.
Kalau begitu, agama Kristen memegang teguh kedua factor itu : pemeliharaan Allah akan makhluknya (terlebih orang beriman), DAN tanggungjawab kita dalam hal “membentuk” hidup kita sendiri. Apabila yang pertama ditiadakan, maka manusia bukanlah manusia yang kita kenal sekarang; apabila yang kedua ditiadakan, maka fatalismelah yang berlaku.
Hidup kita ada dalam pemeliharaan Tuhan; tetapi juga hidup kita adalah tanggungjawab kita sendiri. Pengertian inilah yang mengatasi segala konsep tentang “nasib”.